Terperosok ke Kemusyrikan Karena Ucapan

Syirik ( menyekutukan Allah ) seringkali tidak kita sadari. Seringkali, perbuatan syirik sulit untuk dikenali. Bahkan, lebih sulit dari mengenali seekor semut hitam yang merayap diatas batu hitam pada malam yang kelam.

Artinya, jika kita tidak berhati – hati bisa – bisa kita terperosok di dalamnya. Padahal, Allah mengingatkan, ” Maka janganlah kamu membuat andaad ( sekutu – sekutu ) untuk Allah, padahal kamu mengetahui ( bahwa Allah adalah Maha Esa ). “ ( QS. Al Baqoroh : 22 )

Ibnu ‘Abbas dalam menafsirkan ayat tersebut, mengatakan : ” Membuat andaad ialah berbuat syirik, suatu perbuatan dosa yang lebih sulit untuk dikenali dari pada semut kecil yang merayap diatas batu hitam pada malam yang kelam. Yaitu seperti ucapan anda : ” Demi Allah dan demi hidupmu wahai Fulan serta demi hidupku’ atau ‘ kalau bukan karena anjing kecil orang ini, tentu kita didatangi pencuri – pencuri itu ” atau : ” Kalau bukan karena angsa yang ada di rumah ini tentu datanglah pencuri – pencuri itu dan ucapan seseorang kepada kawannya : ” Atas kehendak Allah dan kehendakmu ‘ juga ucapan seseorang : ” Kalau bukan karena Allah dan karena si Fulan’. Janganlah anda sebutkan si Fulan ( si Anu ) dalam ucapan – ucapan tersebut. Itu semua adalah perbuatan syirik terhadap – Nya. “ ( Riwayat Ibnu Abi Hatim )

Dalam kehidupan kita sehari – hari, justru sering kita temui hal – hal tersebut. Kadang, tanpa sadar atau sudah terbiasa, kita dengan ringannya mengucapkan sesuatu yang menjurus ke kemusyrikan. Misalnya, ketika jago kita kalah dalam suatu pertandingan olahraga, kita berucap, Dewi Fortuna  belum berpihak kepadanya. Siapa Dewi Fortuna ? Apakah yang menentukan kemenangan atau kekalahan seseorang adalah Dewi Fortuna dan bukan Allah ?

Dalam kesempatan lain, ketika seseorang selamat dari bahaya tenggelam lantaran berpegangan pada sebatang kayu, kita dengan ringannya berucap, ” Sebatang kayu telah mnyelamatkannya “. Padahal, siapakah yang menyelamatkan, menghidupkan dan mematikan seseorang ? Bukankah Allah ? Kalau Allah berkehendak, tanpa sebatang kayu itupun, orang tadi bakal terselamatkan. Allah akan menyelamatkannya dengan cara lain.

Atau, seorang personel militer yang lolos dari sergapan musuh, dengan wajah berbinar memeluk senapan mesinnya. Kalau bukan karena senjata canggih ini, pasti saya sudah habis. Lagi – lagi, siapakah yang menyelamatkannya ? Senapan itu, atau Allah ? Coba ingat ketika kapal wisata Titanic diluncurkan. Seseorang dengan sombongnya berucap. Bahkan Tuhanpun tak mampu menenggelamkannya. Hanya beberapa jam setelah itu, Titanic yang perkasa itu ditenggelamkan Allah.

Mempertuhankan berhala, benda pusaka dan jimat – jimat, banyak orang sudah paham bahwa hal itu adalah perbuatan syirik. Tetapi tak banyak yang sadar bahwa kemusyrikan seringkali berawal dari kalimat – kalimat ringan yang keluar dari celah bibir kita. Seringkali, tanpa kita menyadari. Karena itu eling lan waspada sebelum berkata – kata adalah mutlak perlu.

wallahu a’lam bishawab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: