Biar Setan Benci Asal Allah Cinta

Pernah dengar guyonan tentang menghamili anak setan ? Guyonan itu berupa tebak – tebakan dengan pertanyaan, ” perbuatan apa yang dibenci setan tetapi juga dibenci Allah ? ”  Jawabnya yaitu tadi : menghamili anak setan.

Kelihatannya sepele. Tetapi, sebetulnya ada kekeliruan besar di dalam guyonan itu. Sebab, tak pernah ada kompromi antara kebencian Allah dengan kebencian setan. Apa yang disukai Allah pasti dibenci setan. Sebaliknya, apa yang disukai setan pasti dibenci Allah.

Syariat Islam memang seperti itu. Tidak ada wilayah abu – abu. Kalau tidak haq pasti bathil. Kalau bathil pasti tidak haq. Bahkan, jika terjadi namanya talbisul haq bil bathil (percampuran antara yang haq dan bathil), hasilnya adalah bathil. Bukan setengah haq atau setengah bathil. Seperti kata peribahasa, rusak susu sebelanga akibat nila setitik.

Dalam sejarah, ada sahabat Nabi yang terkenal sangat tegas dalam urusan membedakan haq dan bathil ini. Dialah Umar bin Khaththab. Karena ketegasannya itu, ia mendapat julukan al faruq alias Sang Pembeda. Al Qur’an pun punya nama lain Al Furqan yang artinya juga pembeda. Maksudnya Al Qur’an jadi pembeda antara yang haq dan diridhoi Allah dengan dengan yang bathil dan dibenci Allah.

Suatu hari, dua orang arab yang sedang berselisih menemui Nabi.

Nabi pun memberikan fatwa untuk keduanya. Tetapi, dua orang ini tidaklah puas

Ditemuilah Abu Bakar. Jawaban Abu Bakar pun sama persis dengan jawaban Nabi. Keduanya tetap tidak puas, lalu menemui Umar. Harapan mereka, Umar bisa membuat keputusan yang tegas.

Keputusan Umar memang tegas. Ditebasnya leher salah satu dari mereka. Sedang yang satunya lagi ngacir menyelamatkan diri.

Bagi Umar, apa yang sudah diputuskan Nabi tak bisa ditawar lagi. Umar sangat yakin, seperti firman Allah yang menegaskan bahwa sikap, kata – kata dan perbuatan Nabi ada dalam bimbingan wahyu Allah.

Maka jika kita memutuskan untuk mencintai Allah, tak ada jalan lain selain meninggalkan segala yang dibenci – Nya. Untuk itu, kita harus tahu apa yang disuka dan dibenci Allah. Jangan sampai terpuruk pada sesuatu yang justru dicintai setan.

Sebetulnya mudah saja, seperti perintah Allah agar Nabi menyampaikan kepada umatnya, ” Katakanlah jika kamu benar – benar mencintai Allah, maka ikutilah aku ( Muhammad). Niscaya Allah akan mencintaimu. “ ( QS Ali Imran : 31 )

Kalau kita betul – betul bisa melakukan itu, maka kita akan menjadi umat yang dapat mencintai-Nya lantaran kita mencintai-Nya. Seperti janji Allah, ” Dia mencintai mereka dan mereka mencintai Allah. “ ( QS Al Maidah : 54 )

Tetapi, bersiap – siaplah. Dengan menciantai Allah itu artinya kita siap menerima resiko dibenci setan. Tak usah khawatir. Sebenci apapunsetan kepada kita, kalau Allah mencintai kita, segala macam setan bisa apa ??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: