Lima Syarat Untuk Berbuat Maksiat

Posted in awal on 26 April 2013 by bastian17

Maksiat memang enak. Tetapi, enak yang berujung kesengsaraan. Itu sebabnya, Allah melarang kita mendekati maksiat. Tetapi, lantaran enaknya itu, masih juga banyak yang ngeyel untuk tetap melakoninya.

Buat yang masih ngeyel, silakan tetap maksiat, asal penuhi dulu 5 syarat. Suatu hari, seorang lelaki menemui Ibrahim bin Adham, seorang sufi pada abad 9. Dia berkata, ” Wahai Abu Ishak ( anak Ibrahim bernama Ishak. Itu sebabnya ia di panggil Abu Ishak ). Selama ini aku gemar bermaksiat. Tolong berikan aku nasehat. “

Mendengar perkataan tersebut, Ibrahim berkata, ” Jika kamu mau menerima 5 syarat dan mampu melaksanakannya, maka boleh kamu melakukan  maksiat.” Lelaki itu dengan tidak sabar bertanya. ” apa syaratnya ? “

Ibrahim berkata, ” Syarat pertama, jangan memakan rezekinya. ” Mendengar itu dia mengernyitkan kening seraya berkata, ” Dari mana aku mau makan ? Bukankah semua yang ada di bumi ini rezeki Allah ?

” Ya !” tegas Ibrahim bin Adham. ” Kalau kamu sudah memahaminya, masih mampukah memakan rezekinya, sedangkan kamu selalu berkeinginan melanggar larangan – Nya ? “

Yang Kedua, ” kata Ibrahim. ” Kalau mau bermaksiat, jangan tinggal di bumi – Nya ? ” Syarat ini membuat lelaki itu terkejut setengah mati.

Ibrahim kembali berkata kepadanya, ” Pikirkanlah, apakah kamu layak memakan rezeki – Nya dan tinggal di bumi – Nya, sedangkan kamu melanggar segala larangan – Nya

Tiga Golongan yang Pertama Merasakan Neraka

Posted in awal on 24 April 2013 by bastian17

Suatu hari, Nabi MUhammad SAW ditanya tentang berperang karena riya ( pamer ), berperang karena keberanian dan berperang karena kesetiaan, manakah diantaranya yang ada di jalan Allah ? Beliau menjawab, ” Orang yang berperang agar kalimat Allah lah yang paling tinggi, maka dia berada di jalan Allah. “

Isilah pelajaran tentang keikhlasan dari beliau. Pada kesempatan lain, beliau juga mengabarkan tiga golongan manusia yang pertama – tama diperintahkan untuk merasakan api neraka. Mereka adalah qari Al – qur’an, para mujahid dan orang yang menyedekahkan hartanya. Tetapi, ketiganya punya motif tersendiri. Mereka melakukannya agar dikatakan, ” Fulan adalah qari’, fulan adalah pemberani dan fulan adalah orang yang dermawan,” Dengan kata lain, amal mereka tidak ikhlas karena Allah.

Padahal dalam sebuah hadits qudsi disebutkan, ” Allah berfirman : ” Aku adalah yang paling tidak membutuhkan persekutuan dari sekutu – sekutu yang ada. Barangsiapa mengerjakan suatu amal, yang di dalamnya ia menyekutukan selain – Ku, maka dia menjadi milik yang dia sekutukan. Dan Aku terbebas darinya’.” ( HR Muslim ).

Di dalam hadits lain disebutkan, Allah berfirman pada hari kiamat:: ” Pergilah lalu ambillah pahalamu dari orang yang amalanmu kamu tujukan. Kamu tidak punya pahala disisi Kami. “

Sulit memang menjaga keikhlasan dalam beramal dan beribadah. Banyak definisi ikhlas. Tetapi, tujuannya sama. Ada yang berpendapat, ikhlas artinya mengkhususkan Allah sebagai tujuan dalam ketaatan. Ada juga yang berpendapat, ikhlas artinya membersihkan perbuatan dari perhatian manusia, termasuk pula diri sendiri. Orang yang ikhlas tidak riya dan tidak ujub ( berbangga diri ).

Al Fudhail berkata : ” meninggalkan amal karena manusia adalah riya, mengerjakan amal karena manusia adalah syirik. Sedangkan ikhlas ialah jika Allah memberikan anugerah kepadamu untuk meninggalkan keduanya.”

Sedang Al Junaid berkata : ” Ikhlas merupakan rahasia antara Allah dan hamba, yang tidak diketahui kecuali oleh malaikat sehingga dia mencatatnya. Tidak diketahui setan sehingga dia merusaknya dan tidak pula diketahui hawa nafsu sehingga dia mencondongkannya. “

Yusuf bin Al Husein berkata : ” Sesuatu yang paling mulia di dunia adalah ikhlas. Betapa banyak aku mengenyahkan riya dari hatiku, tapi seakan – akan ia tumbuh lagi dalam rupa yang lain . ”

Sedang ulama lain, penulis Manazilus Sa’irin berkata : ” Ikhlas artinya membersihkan amal dari segala campuran. “ Dengan kata lain, amal itu tidak dicampuri sesuatu yang mengotori karena kehendak – kehendak nafsu, entah karena ingin memperlihatkan amal itu tampak indah di mata orang – orang, mencari pujian, tidak ingin dicela,mencari pengagungan dan sanjungan, karena ingin mendapatkan harta dari mereka ataupun alasan – alasan lain yang berupa cela dan cacat, yang secara keseluruhan dapat disatukan sebagai kehendak untuk selain Allah, apapun dan siapapun. 

wallahu a’lam bishawab

 

 

Terperosok ke Kemusyrikan Karena Ucapan

Posted in awal on 11 April 2013 by bastian17

Syirik ( menyekutukan Allah ) seringkali tidak kita sadari. Seringkali, perbuatan syirik sulit untuk dikenali. Bahkan, lebih sulit dari mengenali seekor semut hitam yang merayap diatas batu hitam pada malam yang kelam.

Artinya, jika kita tidak berhati – hati bisa – bisa kita terperosok di dalamnya. Padahal, Allah mengingatkan, ” Maka janganlah kamu membuat andaad ( sekutu – sekutu ) untuk Allah, padahal kamu mengetahui ( bahwa Allah adalah Maha Esa ). “ ( QS. Al Baqoroh : 22 )

Ibnu ‘Abbas dalam menafsirkan ayat tersebut, mengatakan : ” Membuat andaad ialah berbuat syirik, suatu perbuatan dosa yang lebih sulit untuk dikenali dari pada semut kecil yang merayap diatas batu hitam pada malam yang kelam. Yaitu seperti ucapan anda : ” Demi Allah dan demi hidupmu wahai Fulan serta demi hidupku’ atau ‘ kalau bukan karena anjing kecil orang ini, tentu kita didatangi pencuri – pencuri itu ” atau : ” Kalau bukan karena angsa yang ada di rumah ini tentu datanglah pencuri – pencuri itu dan ucapan seseorang kepada kawannya : ” Atas kehendak Allah dan kehendakmu ‘ juga ucapan seseorang : ” Kalau bukan karena Allah dan karena si Fulan’. Janganlah anda sebutkan si Fulan ( si Anu ) dalam ucapan – ucapan tersebut. Itu semua adalah perbuatan syirik terhadap – Nya. “ ( Riwayat Ibnu Abi Hatim )

Dalam kehidupan kita sehari – hari, justru sering kita temui hal – hal tersebut. Kadang, tanpa sadar atau sudah terbiasa, kita dengan ringannya mengucapkan sesuatu yang menjurus ke kemusyrikan. Misalnya, ketika jago kita kalah dalam suatu pertandingan olahraga, kita berucap, Dewi Fortuna  belum berpihak kepadanya. Siapa Dewi Fortuna ? Apakah yang menentukan kemenangan atau kekalahan seseorang adalah Dewi Fortuna dan bukan Allah ?

Dalam kesempatan lain, ketika seseorang selamat dari bahaya tenggelam lantaran berpegangan pada sebatang kayu, kita dengan ringannya berucap, ” Sebatang kayu telah mnyelamatkannya “. Padahal, siapakah yang menyelamatkan, menghidupkan dan mematikan seseorang ? Bukankah Allah ? Kalau Allah berkehendak, tanpa sebatang kayu itupun, orang tadi bakal terselamatkan. Allah akan menyelamatkannya dengan cara lain.

Atau, seorang personel militer yang lolos dari sergapan musuh, dengan wajah berbinar memeluk senapan mesinnya. Kalau bukan karena senjata canggih ini, pasti saya sudah habis. Lagi – lagi, siapakah yang menyelamatkannya ? Senapan itu, atau Allah ? Coba ingat ketika kapal wisata Titanic diluncurkan. Seseorang dengan sombongnya berucap. Bahkan Tuhanpun tak mampu menenggelamkannya. Hanya beberapa jam setelah itu, Titanic yang perkasa itu ditenggelamkan Allah.

Mempertuhankan berhala, benda pusaka dan jimat – jimat, banyak orang sudah paham bahwa hal itu adalah perbuatan syirik. Tetapi tak banyak yang sadar bahwa kemusyrikan seringkali berawal dari kalimat – kalimat ringan yang keluar dari celah bibir kita. Seringkali, tanpa kita menyadari. Karena itu eling lan waspada sebelum berkata – kata adalah mutlak perlu.

wallahu a’lam bishawab

Beda Karomah Allah dan Ilmu Gaib dari Jin

Posted in awal on 10 April 2013 by bastian17

Para tukang sihir melemparkan utas – utas tali ke hadapan Nabi Musa As. Seketika, tali itu dalam pandangan manusia, termasuk nabi Musa As, berubah menjadi ular – ular yang siap menyerang. Allah pun menyuruh Nabi Musa As melemparkan tongkatnya. Seketika, tongkat itu berubah menjadi ular yang besar. Ular besar itu langsung mencaplok habis ular – ular jadi – jadian hasil kerja tukang sihir.

Baik yang dikerjakan tukang sihir maupun Nabi Musa As, sama – sama mengagumkan dalam pandangan manusia biasa. Tetapi, sesungguhnya ada perbedaan mendasar.

Saat ini, fenomena seperti itu pun banyak kita jumpai ditengah kita. Banyak hal aneh dan mengagumkan di pamerkan orang – orang berilmu. Mulai dari kekebalan tubuh dari segala macam senjata, hingga ” ketepatan ” ramalan.

Perbedaan antara yang dikerjakan tukang sihir Firaun dengan respons Nabi Musa As terletak pada sumbernya. Tukang sihir menggunakan kemampuan yang diperoleh dari kerjasama dengan setan. Sedang Nabi Musa As mendapatkan karomah dari Allah.

Salah satu tolok ukur karomah adalah bahwa orang yang mendapatkannya adalah orang yang saleh dan lurus dalam beragama.

Dia adalah orang yang lurus akidahnya, sehat cara berfikirnya, benar ibadahnya, dan mulia akhlaknya.

Memiliki iman yang kuat kepada Allah dan selalu berusaha mengikuti teladan Rosulullaah SAW. Ia juga menerapkan syariat islam secara serius baik dalam diri maupun keluarganya. Satu lagi yang paling penting, dia selalu dalam misi memperjuangkan Islam, jihad dan dakwah mengajak kepada kemurnian ajaran islam.

Manusia saleh seperti inilah yang biasanya Allah berikan kemuliaan ( karomah ) hal – hal yang diluar kebiasaan umumnya. Dan kemuliaan itu datangnya dari Allah SWT sebagai bentuk penghargaan-Nya atas ketaatannya dan ketundukannya kepada agama Islam.

Karomah ini datangnya begitu saja dari Allah. Yang bersangkutan bisa jadi sama sekali tidak sadar bahwa Allah memberinya karomah seperti ini. Dengan kata lain, biasanya karomah ini bukan berbentuk kemampuan yang bisa digunakan kapan saja semaunya. Tetapi, hanya akan datang pada saat memang Allah menghendakinya. Bila Allah tidak menghendaki, tidak akan terjadi lagi, meski orang itu berusaha melakukannya. Jadi dalam karomah itu, yang bersangkutan itu sama sekali tidak pernah merasa punya kemampuan lebih itu.

Ilmu gaib pemberian jin berbeda sekali dengan karomah. Pelakunya bisa saja orang fasik yang tidak pernah sholat, tidak bayar zakat, tidak menutup aurat dan jahil terhadap syariah Islam.

Pemilik ilmu gaib biasanya menggunakan kemampuannya untuk kepentingan pribadi atau mencari rezeki. Bahkan, untuk memberikan pertolongan kepada kebatilan. Kemampuan ini biasanya di dapat dengan cara dipelajari atau dimintakan kepada jin. Tentu saja dengan pembayaran yang intinya harus mengerjakan perbuatan mungkar, meski tersamar.

Memang kemampuan itu bisa digunakan kapan saja sekehendak si empunya ilmu gaib. Bahkan bisa dipertontonkan di layar TV untuk mengundang decak kagum pemirsa dan berujung kepada mendatangkan iklan serta uang.

Intinya, karomah adalah anugerah dari ketaatan kepada Allah dan hanya diberikan kepada hamba yang saleh. Sedangkan, Ilmu gaib adalah bentuk kemungkaran dan kesesatan serta hanya dilakukan oleh mereka yang jahil, sesat dan kosong imannya.

wallahu a’lam bishawab

Makin Mengingkari Allah, Makin Sakti

Posted in awal on 3 April 2013 by bastian17

Berulangkali para ulama menyampaikan, setan tak pernah memberikan bantuan dengan cuma – cuma. Hubungan dengan setan, mungkin saja di bungkus dengan istilah kerjasama. Ada juga yang menyebutnya ” memanfaatkan kemampuan ghaib mereka “. Di samping Itu, ada yang merasa tak masalah lantaran kerjasama itu dilakukan dengan jin muslim.

Tetapi, hakikatnya semua sama saja. Berhubungan dengan jin, baik dia mengaku muslim atau bukan, baik itu kerja sama saling menguntungkan ataupun manusia berposisi sebagai majikan, sama – sama terlarang di dalam islam. Tentu saja, penegasan para ulama itu berdasar pada firman Allah.

” Dan bahwasanya ada beberapa lelaki dari kalangan manusia meminta perlindungan kepada beberapa lelaki dari kalangan jin. Maka, jin – jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan. “ ( QS. Al – JIn : 6 )

Dosa dan kesalahan adalah efek utama dari berhubungan dengan setan. Dan itulah sesungguhnya misi utama mereka. Sesuai garis perjuangan yang ditetapkan nenek moyang mereka, iblis, ketika diusir Allah dari surga dulu.

Maka, kalau seseorang yang menjalin kemitraan dengan setan kemudian mendapatkan kemampuan – kemampuan supranatural, sesungguhnya yang diperolehnya tak sebanding dengan dosa dan kesalahan yang menumpuk di pundaknya. Ibnu Taimiyah menyebut kerelaan orang ini untuk menanggung dosa dan kesalahan sebagai suap bagi setan yang menjadi mitranya. Suap agar ia mendapatnkan kemampuan – kemampuan supranatural tadi.

” Setan, secara jiwa adalah jahat. Jika ada orang yang mendekatkan diri kepada setan dengan menggunakan jimat – jimat, mantera – mantera, buku – buku sihir dan yang lainnya yang merupakan kekufuran dan kesyirikan, maka semua itu seperti suap bagi mereka. Dan mereka ( setan ) akan memenuhi sebagian keinginannya, “ kata Ibnu Taimiyah dalam kitabnya, Majmu’ Fatawa.

Makin besar suap, otomatis makin banyak yang didapatkannya. Maka, makin besar dan kesalahan yang dipersembahkan kepada setan, makin banyak pula kemampuan syaithani yang diberikan setan kepada manusia yang jadi mitranya itu.

Jangan heran kalau kemampuan ghaib tiap dukun, tukang sihir  dan mitra – mitranya setan berbeda – beda. Sebab, ” upeti ” yang mereka berikan kepada setan juga berbeda – beda.

” Setiap kali penyihir bertambah ingkar, jahat dan melawan Allah dan Rasul-Nya serta merusak hamba – hamba beriman, maka sihirnya akan lebih kuat dan ampuh, “ kata Ibnu Qoyyim. ” Itulah sebabnya sihir para penyembah patung lebih kuat dari sihir ahli kitab. Dan sihir Yahudi lebih kuat dari sihir mereka yang masih mengaku muslim, “ jelasnya.

Ingat, rumusnya sudah jelas. Yakni makin jauh dari Allah, makin banyak yang diberikan oleh setan. Sebaliknya, makin jauh dari setan, makin banyak karunia Allah akan diterima.

Silahkan pilih,…

mau kesaktian sementara dari setan ???  Atau kebahagiaan abadi dari Allah ???

wallahu a’lam bishawab

Lawan Setan, Kuatkan Stamina

Posted in awal on 30 Maret 2013 by bastian17

Dalam sebuah pertandingan olahraga, taktik dan strategi adalah hal yang penting untuk mengalahkan lawan. Tak kalah pentingnya adalah stamina. Dalam pertandingan tinju misalnya. Lawan yang kalah strategi dan taktik mungkin bisa dikanvaskan berkali – kali. Tetapi, kalau lawan menang stamina, ia mungkin bangkit dan bangkit lagi setelah dikanvaskan. Hingga pada akhirnya, si juara stamina ini bakal ganti menganvaskan si juara taktik dan strategi.

Setan adalah petarung yang tangguh. Modal utama untuk mewujudkan cita – citanya menyesatkan sebanyak mungkin manusia sudah dimiliki, yakni tekad yang kuat. Strategi dan taktik, ia jagonya. Apalagi, proses kaderisasi dari zaman iblis ( nenek moyangnya setan ) terus berlangsung sampai hari kiamat kelak. Walhasil strategi dan taktik penyesatan yang mereka koleksi dari zaman awal penciptaan manusia amatlah beragam.

Bagaimana dengan stamina ?

Suatu ketika, ulama dari generasi tabi’in, Hasan Al Basri ditanya oleh seseorang. ” Apakah setan itu tidur ?”

Hasan Al Basri tersenyum seraya berkata, ” Kalau setan tidur, kita bisa beristirahat. “

Artinya, stamina setan luar biasa. Mungkin satu dua kali kita bisa mengalahkannya. Tetapi, kalau kita kalah stamina, pada gilirannya, setan ganti mengalahkan kita.

Itu sebabnya Allah mengingatkan orang – orang yang beriman untuk selalu memandang setan sebagai musuh. Artinya, selalu bersiaga dengan taktik dan strategi didukung stamina yang kuat dalam menghadapinya.

” Sesungguhnya setan itu musuh bagimu. Sebab itu pandanglah dia sebagai musuh. Sesungguhnya setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala – nyala. “ ( QS. Faathir : 6 )

Nabi Muhammad SAW pun menegaskan dalam sabdanya : ” ORang beriman berada dalam lima hambatan : orang beriman yang mendengkinya, orang munafik yang membenci, orang kafir yang memerangi, dan setan yang menyesatkan dan kehendak nafsu yang merayu. “ ( HR. Abu Bakar bin Laal dari Anas ).

Bagi setan sendiri, keimanan seseorang adalah hambatan baginya dalam upayanya mewujudkan obsesi meyesatkan manusia. Maka, tatkala setan mengahadapi hambatan dalam memberikan bisikan dan tipu daya, ia akan mengubah taktik dan strateginya. Demikian seterusnya, sehingga dia mampu menerobos jalan untuk menyesatkan umat manusia.

Bahkan, Nabi Muhammad SAW bersabda : ” Sesungguhnya setan menyelinap ke dalam tubuh anak adam laksana mengalirnya darah didalam tubuh. “ ( HR. Bukhari dan  Muslim )

Seorang mukmin akan senantiasa terjaga selama hatinya tidak terketuk dan berlutut kepada setan.  Sepanjang iman masih berkumandang di dalam dada,  setan tak akan berhasil menaklukkannya. Tetapi, sekali saja staminanya melemah ditandai dengan merosotnya iman, setan akan berjaya melontarkan pukulan – pukulan yang makin melemahkan iman. Hingga akhirnya, tanpa perbaikan stamina, sang mukmin akan ‘ dikanvaskan ‘ dan bertekuk lutut dibawah kekuasaan setan.

wallahu a’lam bishawab

Jangan Mencela dan Memaki Setan

Posted in awal on 26 Maret 2013 by bastian17

Hobi nonton sinetron ? Ada satu pelajaran yang umum diajarkan di sinetron – sinetron kita saat ini. Yakni, pelajaran mencela dan memaki alias misuh. Padahal, sejak dulu bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa yang ramah dan murah senyum. Konon, bangsa – bangsa lain didunia kagum kepada Bangsa Indonesia yang punya smiling face atau wajah penuh senyum itu. Tetapi, rasanya kok tidak kita temukan smiling face itu dikebanyakan sinetron kita. Sadar ataupun tidak, perlahan kita sebagai pemirsa, juga mulai terbiasa mencela dan memaki. Setidaknya, toleran terhadap sikap buruk itu.

Di sisi lain, percaya atau tidak, kebiasaan suka mencela dan memaki itu akan merugikan kita, kalau suatu saat kepepet menghadapi penampakan makhluk ghaib. Kok bisa ?

Kita sudah tahu, jurus pertama menghadapi jin adalah “ jangan panik “. Ada orang yang menyarankan untuk memaki – maki saja jin pengganggu itu untuk menunjukkan bahwa kita tidak takut.

“ Jin jelek lu ! Lu sama gue tinggian gue derajatnya ! Rumah lu di neraka ! kasihan deh luuu ! bilang saja begitu kalau ketemu penampakan, “ saran seseorang yang terkenal pemberani.

Memang, kesannya kita jadi terlihat berani. Boleh jadi, setan yang kita maki – maki itu akan ketakutan melihat kita. Apalagi, sejatinya memang mereka juga takut kalau menghadapi kita. Tetapi jangan lupa, akal busuk mereka lebih busuk dari yang kita duga.

Itu sebabnya Nabi Muhammad SAW melarang umatnya mencaci maki setan. Sabda Nabi SAW : “ Janganlah kalian mencaci setan. Tetapi, berlindunglah kepada Allah SWT dari kejahatannya. “ ( H.R  Ad Dailami dan di sahihkan oleh Al Albani ).

Di sinilah terletak mulianya akhlak Islam. Jangankan kepada orang baik – baik, kepada setan yang jelas – jelas musuh besar saja, seorang muslim diperintahkan untuk tidak mencela dan mencaci – maki.

Imam Al – Munawi dalam kitabnya Faidhul Qadir menjelaskan alasan mengapa tidak boleh mencaci – maki setan. Kata beliau, “ Karena dengan mencaci – maki setan, kita tidak akan selamat dari gangguannya dan juga tidak akan membuatnya jera untuk memusuhi kita. Tetapi, dengan berlindung kepada Allah SWT dari kejahatannya, itu adalah tindakan yang tepat. Karena, Allah lah yang menguasai setan dan yang kuasa untuk menolak makar setan dari hamba- hamba yang dikehendaki-Nya.”

Analognya, kalau kita bertemu preman yang galak, tidak usahlah memaki – maki dia. Sebab, makian kita tidak akan membuatnya pergi. Bahkan, bisa – bisa dia jadi makin galak. Lebih baik, hindari dan cari perlindungan dari gangguannya.

Cari perlindungan. Inilah Jurus ketiga ketika menghadapi penampakan. Perlindungan dari siapa ?  Minta bantuan dukun dan orang pintar ?? huuusss….. itu tindakan paling ngawur !!!

wallahu a’lam bishawab