Tidak Sia – sia Allah Menciptakan Setan

Gambar

Setan dan nafsu adalah dua hal yang tak terpisahkan. Sumber segala kejahatan adalah setan. Dalam aksinya, ia sering menggunakan kelemahan nafsu manusia. Menurut  ulama tafsir Al – Qur’an, Dr. M Quraish Shihab MA dalam bukunya, Wawasan Al – Qur’an, Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan, setan adalah nama yang populer diantara nama – nama si perayu kejahatan. Begitu populernya, sehingga menyebut namanya saja, terbayanglah kejahatan itu.

Nama setan dikenal dalam ketiga agama samawi : Yahudi, Nasrani dan Islam. Ada yang menduga, kata setan berasal dari bahasa Ibrani yang berarti ” lawan / musuh. “ Tetapi, ada juga yang menganggapnya berasal dari bahasa Arab syaththa yang berarti ” tepi “, dan syatha yang berarti ” hancur dan terbakar “ , atau syathatha yang berarti ” melampaui batas “.

Setan, karena jauh dari rahmat Allah, akan hancur dan terbakar di neraka. Setan selalu di tepi, memilih yang ekstrem dan melampaui batas. Bukankah seperti sabda Nabi Muhammad SAW : ” Khair al-umur al-wasath ” ( sebaik – baikn sesuatu adalah yang moderat, yang di tengah ).

Demikian halnya kedermawanan yang berada di antara keborosan dan kekikiran. Juga, keberanian berada di tengah antara takut dan ceroboh. Konon, kata devil ( setan ) di dalam bahasa inggris terambil dari kata do yang berarti kejahatan. Dengan demikian, setan adalah ” yang melakukan kejahatan. “

Setan terjahat bernama iblis. Sebagai pakar barat berpendapat bahwa kata iblis asalnya adalah dari bahasa Yunani, Diabolos yang mengandung arti memasuki dua pihak untuk menghasut dan memecah belah. Diabolos adalah gabungan Dia yang berarti ketika dan Ballein yang berarti melontar. dari Bahasa Arab, iblis diduga terambil dari akar kata ablasa yang berati ” putus harapan “, karena iblis telah putus harapannya masuk surga. Demikian tulis Abbas Al – Aqqad dalam bukunya, iblis.

Yang jelas, Allah tidak menciptakan setan secara sia – sia. Bahkan, manusia seharusnya mengenal setan dengan baik. Dengan mengenalnya, sejak itu pula terbuka lebar pintu kebaikan bagi manusia. Sebab, dengan mengenalnya dan mengetahui sifat – sifatnya, manusia dapat membedakan yang baik dan yang buruk. Bahkan, dapat mengenal substansi kebaikan.

Kebaikan bukan seadar sesuatu yang tidak jelek atau jahat. Bukan pula sekadar lawan kejelekan atau kejahatan. Wujud kebaikan baru nyata pada saat kejahatan yang ada itu di abaikan, lalu dipilihlah yang baik. Itu sebabnya manusia melebihi malaikat, karena kejahatan tidak dimiliki oleh malaikat, sehinnga mereka tidak dapat tergoda.

Quraish Shihab menambahkan, manusia dapat menjadi setan pada saat ia enggan memilih yang baik, lalu merayu yang lain untuk memilih kejahatan. Ketika iblis ( biangnya setan ) dikutuk Tuhan, ia bersumpah di hadapan-Nya : ” Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, maka saya benar – benar akan ( menghalang – halangi ) mereka di jalan – Mu yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi ( menggoda ) mereka dari muka dan belakang, kanan dan kiri mereka, dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur ( taat ) “ ( QS. AL A’raf : 16 – 17 )

Ayat ini mengisyaratkan bahwa setan akan menghadang dan merayu manusia dari empat penjuru : depan, belakang, kanan, dan kiri, sehingga tinggal dua penjuru yang aman yaitu arah atas “ ( lambang kehadiran Allah ) dan arah ” bawah “ ( lambang kesadaran manusia akan kelemahannya di hadapan Allah ).

Manusia harus berlindung kepada Allah, sekaligus menyadari kelemahannya sebagai makhluk, agar dapat selamat dari godaan dan rayuan setan. Ulama – ulama menggambarkan godaan setan seperti serangan virus. Seseorang tidak akan terjangkiti olehnya selama memiliki kekebalan tubuh. Imunisasi menjadi cara terbaik untuk memelihara diri dari penyakit jasmani. Sementara, kekebalan jiwa diperoleh saat berada di arah ” atas “ maupun ” bawah “.

Al – Qur’an surat An Nisa ayat 76 menggaris bawahi bahwa : ” Sesungguhnya tipu daya setan lemah. “  Ini tentu bagi mereka yang memiliki kekebalan jiwa. Ini menjadi dasar Al – Qur’an memerintahkan manusia untuk ber-ta’awwudz ( memohon perlindungan-NYa ) saat terasa ada godaan, sebagaimana dalam berjihad seorang muslim dianjurkan banyak berdzikir, antara lain dengan menyebut atau memekikkan kalimat ” Allaahu akbar “.

Untuk memiliki kekebalan jiwa, tentu perlu mengetahui hakikat godaan setan dan kelemahan nafsu yang kita miliki.

wallahu a’lam bishawab

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: